12 January 2017 | 5:47 am

JAKARTA – Masyarakat diminta berpegang pada media mainstream sebagai acuan memilih informasi. Berita di media mainstream, terutama media online lebih bisa dipertanggungjawabkan ketimbang media yang tidak jelas.

Apalagi, sekarang ini banyak situs abal-abal. Ironisnya, berita atau foto yang disebar media abal-abal di media sosial bisa viral, meskipun isinya tidak berdasar alias hoax.

“Intinya masyarakat harus pintar agar tidak terkecoh berita bohong dari media penyebar hoax dan radikalisme,” ujar pengamat intelijen, Wawan Hari Purwanto, Jakarta, Kamis (12/1/2017).

Menurutnya, keberadaan media penyebar hoax dan radikalisme belakangan ini sangat mengkhawatirkan. Menurutnya media-media membuat berita bohong untuk melakukan propanganda dengan tujuan menciptakan suasana tidak kondusif, bahkan bisa mengancam disintegrasi bangsa.

“Tapi masalahnya masih banyak masyarakat yang belum paham memilah mana media penyebar informasi yang benar atau tidak,” ucapnya. (Baca: Pemerintah Diminta Tak Berlebihan Sikapi Berita Hoax)

Dia mengingatkan, keberadaan media penyebar hoax dan propaganda radikalisme sangat membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Apalagi, kata dia kalau berita itu bersifat menghasut.

“Jangan langsung percaya dengan apa yang kita dapat dari media. Verifikasi lebih dulu, sebelum mempelajari atau menyebarkan lagi,” imbuhnya.

(kur)
dibaca 882x




Source

Baca Juga  JICT Family Day 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *